Salamwaras.com, 11 Maret 2026, -Dalam ruang lingkup kehidupan sebuah bangsa, pertanian merupakan salah satu faktor penentu dalam menjaga kelangsungan peradaban. Seorang petani sayuran di lereng Gunung Merbabu, misalnya, jika dilihat sekilas hanya menjalani keseharian dengan bercocok tanam—menanam bibit sayur, merawatnya setiap hari, memberi pupuk dan nutrisi, lalu saat panen menjual hasilnya ke pasar.
Uang dari hasil panen itu kemudian diputar kembali untuk memenuhi kebutuhan hidup selama tiga hingga empat bulan berikutnya di ladang.
Untuk mempertahankan hidup dan mencukupi kebutuhan keluarga, para petani di pegunungan rela hidup sederhana. Mereka tidak menghabiskan waktu di kafe, berjalan-jalan ke mal setiap akhir pekan, atau mencari hiburan demi terlihat bahagia.
Pola makan mereka pun apa adanya—ngramban (memetik sayur dari pekarangan atau ladang),
sambal korek, ikan asin, tahu tempe bacem, dan sesekali mi instan yang akrab di lidah mereka.
Cara hidup sederhana ini menjadi strategi efektif untuk menjaga keseimbangan ekonomi rumah tangga hingga masa panen berikutnya tiba.
Para perempuan di desa pegunungan juga menjalani kehidupan yang serupa.
Mereka tidak terbiasa dengan perawatan salon mahal atau produk kecantikan yang membuat wajah tampak “glowing”. Pakaian dan kerudung yang dikenakan kadang berwarna sederhana dan tidak mengikuti tren kota. Namun mereka tetap percaya diri, fokus pada pekerjaan, tanpa mencari sorotan di dunia nyata maupun di media sosial.
Semua itu membutuhkan keteguhan hati dan jiwa yang luas. Prinsip nrimo ing pandum—menerima dengan lapang dada apa yang menjadi bagian hidup—seolah tetap hidup dalam keseharian mereka. Dalam perspektif spiritual, para petani ini sesungguhnya berada pada tingkat yang tinggi, karena mereka menjalani hidup tanpa haus akan validasi.
Padahal sesungguhnya mereka mampu jika ingin menjalani gaya hidup seperti masyarakat kota: berpakaian rapi, tampil modis, aktif di media sosial, hingga memoles citra diri. Namun mereka memilih fokus pada kerja dan pengabdian pada tanah yang memberi kehidupan.
Dari sini kita belajar bahwa petani adalah sosok yang tangguh dan berdedikasi tinggi. Kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika para petani di lereng gunung berhenti bekerja dan tidak lagi mengolah tanah. Kehidupan manusia tentu akan terguncang.
Falsafah Pacul
Salah satu persoalan bangsa saat ini adalah semakin tercerabutnya generasi dari akar budaya. Dalam pengertian luas, budaya merupakan cara manusia mbudi daya kehidupan melalui cipta, rasa, dan karsa.
Cipta memungkinkan manusia berkreasi dan menciptakan sesuatu untuk mendukung kehidupan. Rasa menyelaraskan pikiran, hati, dan semesta. Sedangkan karsa merupakan pengejawantahan ide dan gagasan dalam tindakan nyata.
Dalam sistem mata pencaharian, para leluhur menciptakan alat pertanian seperti cangkul atau pacul. Bagi petani, pacul merupakan alat yang sangat penting, bahkan menjadi perlengkapan wajib dalam mengolah tanah.
Saat penyebaran Islam di tanah Jawa, alat pertanian ini juga dijadikan simbol dakwah agar nilai agama lebih dekat dengan kehidupan petani. Sunan Kalijaga memfalsafahkan pacul sebagai “perkoro papat ojo nganti ucul”, yang berarti empat perkara penting dalam kehidupan tidak boleh lepas dari kendali.
Empat hal tersebut melambangkan empat indera utama yang harus dijaga oleh seorang pemimpin:
-. Mata, untuk melihat kesulitan rakyat
-. Telinga, untuk mendengar keluhan rakyat dan nasihat para ulama
-. Hidung, untuk merasakan penderitaan rakyat
-. Mulut, untuk menyampaikan kejujuran, keadilan, dan kebijaksanaan
Jika empat hal ini lepas dari kendali, maka pemimpin akan kehilangan kehormatan—diibaratkan seperti kepala gundul tanpa mahkota. Nilai ini juga tercermin dalam lagu Gundul-Gundul Pacul yang diciptakan Sunan Kalijaga pada abad ke-15 sebagai kritik sosial bagi para pemimpin agar tidak bersikap sewenang-wenang.
Mengapa pacul dijadikan simbol gerakan moral? Karena petani adalah kekuatan peradaban. Kita mungkin masih bisa hidup tanpa internet, tetapi tidak mungkin hidup tanpa makanan.
Pelajaran Sejarah
Sejarah juga menunjukkan pentingnya pertanian dalam peperangan. Pada tahun 1629, ketika Sultan Agung dari Mataram menyerang Batavia yang dikuasai VOC, serangan pertama gagal karena minimnya pasokan logistik dan wabah penyakit.
Setelah melakukan evaluasi, langkah penting yang dilakukan sebelum menyerang kembali adalah memperkuat sektor pertanian. Lumbung-lumbung pangan dibangun di sepanjang jalur Pantura untuk menyuplai kebutuhan logistik pasukan.
Meski pada akhirnya lumbung tersebut dihancurkan VOC, peristiwa ini menunjukkan bahwa pangan adalah faktor vital dalam mempertahankan kekuatan sebuah bangsa.
Indonesia dalam Geopolitik Internasional
Indonesia menganut prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Artinya, Indonesia tidak memihak blok kekuatan dunia tertentu, namun tetap aktif memperjuangkan perdamaian dunia dan kepentingan nasional. Prinsip ini tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 serta diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.
Dalam konteks konflik global saat ini, Indonesia memang tidak berada dalam situasi perang. Namun sejarah mengajarkan bahwa kekuatan pangan adalah faktor utama dalam menjaga keberlangsungan peradaban.
Sebagian pihak mungkin mencibir ketika negara lain berlomba mengembangkan teknologi persenjataan, sementara Indonesia masih sibuk membahas program seperti Ompreng MBG (Makan Bergizi Gratis). Namun dalam perspektif strategis, kebijakan ini memiliki dimensi yang lebih luas.
Presiden Prabowo Subianto mengusung prinsip bahwa “satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit”. Prinsip ini menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian, tetapi tetap siap mempertahankan kedaulatan jika diperlukan.
Ompreng MBG dan Ketahanan Pangan
Sebagai warga negara, kita patut membayangkan kemungkinan terburuk jika konflik global benar-benar meluas. Bahkan saat ini saja, ketika Selat Hormuz sempat mengalami gangguan, para ekonom sudah mengingatkan potensi gejolak harga akibat berkurangnya pasokan energi dunia.
Dalam konteks ini, program seperti Food Estate, cetak sawah satu juta hektare di Merauke, serta pembentukan Koperasi Desa Merah Putih dapat dipahami sebagai langkah strategis memperkuat kedaulatan pangan nasional.
Program MBG (Makan Bergizi Gratis) juga memiliki fungsi ganda: meningkatkan gizi anak-anak sekaligus menyerap hasil pertanian dan peternakan masyarakat.
Beberapa tahun lalu, harga sayuran, telur, dan daging sempat anjlok karena daya beli masyarakat melemah. Bahkan susu sempat terbuang karena tidak terserap pasar. Program MBG dapat menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan antara produksi petani dan kebutuhan masyarakat.
Memang ada kasus-kasus penyimpangan oleh oknum penyelenggara dapur MBG yang viral belakangan ini. Kritik tentu diperlukan, namun kritik harus diarahkan pada oknum pelaksana, bukan pada programnya.
Indonesia adalah negara yang mampu membiayai program ini. Yang dibutuhkan adalah pengawasan dan partisipasi masyarakat agar program berjalan tepat sasaran.
Sebagai rakyat, kita juga perlu waspada terhadap upaya politisasi program pemerintah. Kritik boleh disampaikan, namun harus proporsional dan berbasis fakta.
Pada akhirnya, program seperti MBG bukan sekadar soal makanan gratis. Ia merupakan bagian dari strategi besar untuk menyiapkan generasi masa depan yang sehat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan bangsa.
Anak-anak Indonesia yang gizinya tercukupi hari ini adalah investasi bagi masa depan bangsa yang lebih gemilang.
Oleh: Abbet Nugroho, M.A.P
(Seniman, Budayawan, Aktivis Kebangsaan, Sekjen PNIB Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu)
Editor : DM






