ANAK-ANAK PINING HARUS BERANI MATI SETIAP HARI: JEMBATAN ROBOH BERBULAN-BULAN, PEMERINTAH & PIHAK TERKAIT DINILAI ABAI

GayoLues,31 Maret 2026, 09.18 WIB

Penderitaan anak-anak sekolah di Kecamatan Pining semakin memprihatinkan dan tak bisa ditoleransi lagi. Setiap hari, mereka dipaksa mempertaruhkan nyawa dengan menyeberangi sungai berarus deras demi menuntut ilmu, akibat jembatan Pintu Rime yang roboh diterjang banjir bandang hingga kini belum dibangun kembali.

Realitas ini bukan sekadar kelalaian biasa, melainkan potret nyata pembiaran yang mengancam keselamatan generasi masa depan. Di tengah derasnya arus dan keruhnya air sungai, ancaman batu licin dan risiko hanyut menjadi bahaya nyata yang harus dihadapi anak-anak tanpa perlindungan memadai.

Hingga berbulan-bulan pascakejadian, belum terlihat langkah konkret dari pemerintah maupun pihak terkait. Janji demi janji yang sempat disampaikan dinilai masyarakat hanya menjadi retorika kosong tanpa realisasi.

Sorotan tajam diarahkan kepada BNPB RI yang dianggap tidak menunjukkan keseriusan menangani kondisi darurat ini, serta PT Hutama Karya yang belum memberikan klarifikasi terkait keterlambatan pembangunan jembatan. Sikap diam dan minimnya transparansi semakin mempertegas kesan abai terhadap keselamatan warga, khususnya anak-anak sekolah.

Warga Desa Pining, Jamalul Hakim, menyuarakan kekecewaan mendalam. “Kami tidak minta yang muluk-muluk. Kami hanya minta jembatan agar anak-anak kami tidak mati sia-sia di sungai. Pemerintah sudah janji, tapi sampai sekarang tidak ada bukti,” ujarnya dengan nada geram. Ia juga mengkritik keras

Redaksi : Sorotanpublic.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *