SALAMWARAS — JAYAWIJAYA ||
Jerami padi yang selama ini hanya dibakar di lahan, kini disulap jadi pupuk organik. Melalui program Peningkatan Produksi Padi Sawah dan Tanaman Umbi.
Melalui Inovasi Teknologi Biodekomposer Jerami Ramah Lingkungan, mahasiswa bersama masyarakat Kampung Wara, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, berhasil mengubah limbah pertanian menjadi sumber daya bernilai guna.
Pelaksanaan program ini telah mencapai 80 persen realisasi anggaran, dengan capaian signifikan di lapangan.
Inovasi biodekomposer menjadi jembatan antara ilmu kampus dan kebutuhan masyarakat, menjawab tantangan klasik petani pegunungan Papua yang selama ini kekurangan akses terhadap teknologi pertanian ramah lingkungan.

Selama ini, jerami padi di Jayawijaya dibakar begitu saja atau dibiarkan membusuk. Praktik ini bukan hanya membuang potensi bahan organik, tapi juga merusak kualitas udara, mengurangi kesuburan tanah, dan mengancam kesehatan masyarakat.
Kini, paradigma itu mulai bergeser. Jerami tak lagi dianggap limbah, melainkan sumber pupuk organik kaya unsur hara yang mampu memperbaiki struktur tanah dan menekan ketergantungan pada pupuk kimia.
Program pengabdian masyarakat ini tak berhenti di laboratorium. Mahasiswa turun langsung ke sawah, berdialog dengan kelompok tani, ibu-ibu PKK, dan pemuda kampung.
Mereka berbagi praktik pembuatan pupuk organik, manajemen lahan, hingga teknik biodekomposisi yang sederhana namun efektif.
Keterlibatan mahasiswa bukan sekadar kegiatan lapangan. Mereka menjadi motor perubahan sosial—melatih fasilitasi, kepemimpinan, dan dokumentasi kegiatan yang berorientasi hasil.

Capaian ini sekaligus memperkuat Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi dalam aspek kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.
Lebih dari sekadar proyek, inisiatif ini sejalan dengan arah besar pembangunan berkelanjutan. Program biodekomposer jerami di Wara menyentuh empat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) — Tanpa Kelaparan (SDG 2), Produksi dan Konsumsi Bertanggung Jawab (SDG 12), Penanganan Perubahan Iklim (SDG 13), dan Ekosistem Daratan (SDG 15).
Langkah ini juga memperkuat semangat Asta Cita dalam pembangunan desa, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi rakyat.
Dari jerami yang dulu dibakar, kini tumbuh kesadaran baru: kemandirian pangan dan lingkungan yang lestari dimulai dari inovasi sederhana yang berpihak pada bumi dan manusia.






