Salam Waras, Sinjai — Polemik rehabilitasi tiga proyek irigasi di Kabupaten Sinjai kian menguat. Di tengah keluhan warga terkait dugaan kualitas pekerjaan yang tidak maksimal, PJI Sulawesi Selatan melalui humasnya, Dzoel SB, desak Ketua DPD Tani Merdeka Sinjai untuk angkat bicara dan mengambil langkah konkret.
Sebab irigasi bukan sekadar saluran air. Ia adalah urat nadi sawah rakyat. Jika kualitasnya bermasalah, yang terancam bukan hanya beton yang retak — tetapi ketahanan pangan dan masa depan petani kecil.
Dugaan Mutu Konstruksi Dipersoalkan
Di Desa Barambang, warga mengeluhkan cor beton yang dinilai tipis serta pemasangan tulangan besi yang dianggap kurang rapat. Kekhawatiran mencuat: apakah rehabilitasi ini benar-benar dirancang untuk ketahanan jangka panjang, atau sekadar memenuhi target administratif?
Sebagai organisasi yang mengatasnamakan kepentingan petani, DPD Tani Merdeka Sinjai memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan sikap terbuka. Apakah mereka telah meninjau langsung kualitas pekerjaan tersebut? Apakah ada perbedaan signifikan dibanding kondisi irigasi sebelumnya?
Publik menunggu jawaban yang jernih, bukan normatif.
Inpres 2/2025 dan Ujian Konsistensi
Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan Inpres Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan rehabilitasi irigasi guna mendukung swasembada pangan nasional. Pesannya tegas: perbaikan harus nyata manfaatnya, bukan sekadar seremonial.
Namun percepatan tanpa kualitas hanya akan mempercepat kerusakan. Jika di lapangan muncul dugaan ketidaksesuaian spesifikasi, maka proyek tersebut justru berpotensi bertolak belakang dengan cita-cita swasembada.
Swasembada tidak dibangun dari laporan selesai 100 persen. Ia dibangun dari air yang benar-benar sampai ke akar padi.
Transparansi yang Dipertanyakan
Sorotan juga mengarah ke proyek irigasi di Desa Bonto Salama yang disebut tidak memasang papan informasi anggaran dan pelaksana pekerjaan.
Padahal, transparansi adalah prinsip dasar dalam proyek yang menggunakan uang negara.
Tanpa keterbukaan, pengawasan publik lumpuh. Dan tanpa pengawasan,penyimpangan selalu menemukan ruang.
Transparansi bukan ancaman bagi yang bekerja benar. Justru ia menjadi perlindungan bagi semua pihak — termasuk petani.
Risiko Nyata bagi Petani
Jika kualitas irigasi tidak sesuai standar dan cepat rusak, kerugian petani bisa berlapis:
- Distribusi air tidak merata
- Risiko gagal tanam dan gagal panen
- Biaya perbaikan swadaya
- Penurunan produktivitas sawah
Pertanyaannya sederhana:
- siapa yang akan menanggung akibatnya jika konstruksi tidak bertahan lama?
- Petani tidak butuh baliho proyek atau foto gunting pita. Mereka butuh air yang mengalir stabil dan bangunan yang kokoh melewati musim.
Organisasi Petani Sedang Diuji
PJI Sulsel juga mempertanyakan apakah pelaksana proyek telah melakukan sosialisasi yang memadai kepada petani. Apakah ada ruang komunikasi? Apakah ada mekanisme pengaduan?
Lebih dari itu, DPD Tani Merdeka Sinjai kini berada di titik ujian. Apakah akan berdiri tegak bersama petani dan mengawal mutu pembangunan, atau memilih diam di tengah polemik?
Diam bukan sikap netral. Dalam persoalan publik, diam bisa berarti membiarkan.
Jika proyek ini benar sesuai spesifikasi, buktikan dengan keterbukaan dan pengawasan bersama. Jika ada kekurangan, perbaiki sebelum petani yang menanggung akibatnya.
Di negeri yang katanya merdeka, kita memiliki organisasi bernama Tani Merdeka.
Namun pertanyaannya: apakah petaninya benar-benar sudah merdeka?
Indonesia memang telah bebas dari penjajah asing.
Tetapi jangan sampai rakyat kecil justru terjepit oleh praktik-praktik yang menjauh dari semangat keadilan bangsanya sendiri.
Jika proyek dijalankan tanpa keterbukaan, tanpa pelibatan petani, sementara sebagian besar pekerja didatangkan dari luar daerah dan masyarakat sekitar hanya menjadi penonton, maka di mana letak kemerdekaan itu dirasakan?
Petani tidak ingin menjadi objek pembangunan. Mereka ingin menjadi subjek yang dihargai, didengar, dan dilibatkan.
Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajah, tetapi bebas dari ketidakadilan, bebas dari proyek yang tak berpihak, dan bebas dari sistem yang menutup ruang partisipasi rakyat.
Karena merdeka bukan sekadar kata. Merdeka adalah keberanian untuk membela rakyat.
Salam Waras.






