Kronologi Sebelum Sutrimo Meninggal Jadi Sorotan, Dugaan Keracunan Diminta Tak Disimpulkan Prematur

 

 

Penyebab meninggalnya Sutrimo masih menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai dugaan di media sosial, termasuk narasi yang mengaitkan kematiannya dengan dugaan keracunan/F-IST.

Salamwaras.com, Yogyakarta – Penyebab meninggalnya Sutrimo masih menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai dugaan di media sosial, termasuk narasi yang mengaitkan kematiannya dengan dugaan keracunan.

Namun, di tengah berkembangnya spekulasi tersebut, sejumlah pihak mengingatkan agar kondisi medis dan kronologi yang dialami Sutrimo dilihat secara utuh sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab kematiannya.

Seorang narasumber yang mengetahui informasi terkait kondisi medis Sutrimo dan meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, riwayat penyakit serta gejala yang muncul sebelum korban kehilangan kesadaran merupakan bagian penting dalam memahami sebuah kasus kematian.

“Kalau seseorang memiliki riwayat diabetes, kemudian mengalami lemas berat, menggigil, penurunan kesadaran dan kejang, salah satu kondisi medis yang perlu dipertimbangkan adalah hipoglikemia berat. Tetapi tentu saja itu bukan berarti kita boleh langsung menyatakan sebagai penyebab kematian tanpa pemeriksaan resmi,” ungkapnya.

Hipoglikemia berat merupakan kondisi ketika kadar gula darah turun sangat rendah sehingga dapat mengganggu fungsi otak. Dalam kondisi berat, seseorang dapat mengalami kebingungan, kehilangan kesadaran hingga kejang.

Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan terganggunya kemampuan tubuh dalam mempertahankan refleks normal.

Karena itu, menurut narasumber, munculnya busa di mulut tidak bisa serta-merta dijadikan bukti bahwa seseorang mengalami keracunan.

“Busa bisa muncul dalam berbagai keadaan medis. Jadi tidak tepat apabila busa dijadikan satu-satunya dasar untuk mengatakan seseorang telah diracun,” ujarnya, Senin, (24/8/2026).

Kronologi Kondisi Sutrimo

Selain kondisi medis, kronologi sebelum Sutrimo ditemukan dalam keadaan kritis juga dinilai penting untuk diperiksa secara menyeluruh.

Sekitar pukul 01.00 WIB, almarhum disebut masih melakukan aktivitas seperti biasa. Ia mengendarai sepeda motor, membeli makanan, kemudian minum kopi dan mengonsumsi suplemen.

Sekitar pukul 02.00 WIB, kondisi tubuhnya mulai terasa lemas sehingga ia memilih untuk beristirahat.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 05.30 WIB, Sutrimo disebut masih dalam keadaan sadar. Ia bahkan sempat meminta pertolongan kepada petugas keamanan karena mengalami lemas luar biasa disertai menggigil.

Setelah itu, kondisinya dilaporkan semakin memburuk hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis dan mengalami kejang.

Menurut narasumber, rangkaian kejadian tersebut perlu dianalisis oleh tenaga medis dan ahli forensik dengan mempertimbangkan seluruh hasil pemeriksaan yang tersedia.

Dugaan Racun Tak Bisa Disimpulkan Hanya dari Gejala

Narasumber juga mengingatkan agar anggapan mengenai “racun yang bekerja cepat” tidak digunakan secara sederhana untuk menentukan apakah seseorang mengalami keracunan atau tidak.

“Setiap zat memiliki mekanisme, dosis, rute paparan dan karakteristik toksikologi yang berbeda. Karena itu, tidak boleh membuat kesimpulan hanya berdasarkan perkiraan waktu munculnya gejala,” tegasnya.

Apabila terdapat dugaan adanya zat tertentu di dalam tubuh korban, pemeriksaan toksikologi menjadi salah satu bagian penting untuk mengetahui jenis zat, kadar, serta kemungkinan relevansinya terhadap penyebab kematian.

Dengan demikian, penyebab meninggalnya Sutrimo semestinya ditentukan berdasarkan bukti medis dan forensik, bukan semata-mata dari spekulasi yang berkembang di media sosial.

“Publik tentu berhak mengetahui kebenaran. Tetapi kebenaran itu harus dibangun dari hasil pemeriksaan, bukan dari dugaan yang kemudian disebarkan sebagai fakta,” pungkasnya.***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *