Salam waras. com Kajen — Lapangan Desa Sokosari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, berubah menjadi pusat perhatian warga, Kamis (27/8/2026).
Turnamen Sepak Bola Duta Albasy 2026 resmi dimulai dengan atmosfer yang jauh dari sekadar pertandingan sepak bola biasa.
Ratusan warga memadati lapangan. Sorak dukungan mengiringi laga pembuka yang mempertemukan Ambokembang dengan Rowolaku. Ambokembang akhirnya mengunci kemenangan tipis 1-0 atas Rowolaku.
Turnamen tersebut dibuka Anggota DPRD Kabupaten Pekalongan dari Fraksi PDI Perjuangan, Eko Arifianto, yang sekaligus menjadi Ketua Panitia. Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir, di antaranya Ketua Askab, Ketua KONI, Forkopimcam Karanganyar, serta tokoh masyarakat.
Namun, daya tarik turnamen tidak berhenti di tengah lapangan.
Panitia menyelipkan hiburan untuk anak-anak melalui permainan dopres menangkap bola. Sebanyak 10 anak mendapat kesempatan mengikuti permainan tersebut. Antusiasme anak-anak dan sorakan penonton membuat suasana pembukaan semakin semarak.
Yang paling menyedot perhatian penonton adalah pengundian hadiah utama berupa satu unit sepeda motor Honda PCX.
Tiket yang sebelumnya dipegang para penonton menjadi penentu keberuntungan. Hadiah bergengsi tersebut akhirnya dibawa pulang salah seorang warga Desa Sokosari.
Eko: Jangan Berhenti Sebagai Kegiatan Sekali Jalan
Ketua Panitia Eko Arifianto menegaskan, Turnamen Duta Alhabsy 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali.
Menurutnya, turnamen tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun ke-13 sekaligus ruang untuk mempertemukan masyarakat melalui olahraga dan hiburan.
“Ini merupakan salah satu kegiatan yang kami harapkan ke depan bisa rutin dilaksanakan. Selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun ke-13, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempertemukan dan menghibur masyarakat,” ujar Eko.
Eko juga mengakui pelaksanaan pembukaan masih memiliki sejumlah catatan teknis. Namun, ia memastikan kekurangan tersebut akan menjadi bahan evaluasi panitia.
“Kalau ada kesalahan teknis dari panitia, tentu akan menjadi evaluasi. Apa pun yang terjadi, kami tidak ingin hal tersebut menjadi polemik. Ke depan akan kami perbaiki,” katanya.
Bagi Eko, turnamen ini bukan hanya perkara skor di papan pertandingan. Ada pesan yang ingin dibangun: sepak bola bisa menjadi ruang perjumpaan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi momen bagi masyarakat untuk berkumpul. Setiap pertandingan kami upayakan tetap memberikan hiburan dan suasana yang menarik bagi masyarakat, mulai dari pertandingan awal sampai pertandingan terakhir,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman pada laga pembuka menjadi pijakan untuk membuat penyelenggaraan berikutnya lebih matang.
“Dari pengalaman hari ini tentu menjadi bahan catatan bagi kami. Harapannya, ke depan kegiatan bisa semakin baik, semakin meriah, tetapi tetap menjunjung sportivitas dan kebersamaan,” pungkasnya.
Turnamen Duta Albasy 2026 pun diharapkan bukan hanya melahirkan pemenang di atas lapangan. Lebih dari itu, ajang ini diharapkan mampu mempertemukan warga, menghidupkan gairah sepak bola lokal, sekaligus membuka ruang bagi pemain-pemain muda Kabupaten Pekalongan untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Di Sokosari, sepak bola kembali membuktikan bahwa sebuah pertandingan bisa menjadi lebih dari sekadar 90 menit mengejar kemenangan—ia bisa menjadi panggung kebersamaan warga. (Jambul)




