Salam waras. com JOMBANG — Pesan kuat tersirat dari kunjungan Kapolri Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si., ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (17/10).
Kapolri tidak hanya datang untuk bersilaturahmi dengan kalangan pesantren.
Ia juga berziarah ke makam Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur—tokoh bangsa yang dikenal kuat menyuarakan kemanusiaan, demokrasi, toleransi, dan keberagaman.
Kedatangan Kapolri bersama rombongan disambut Pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz. Setelah menunaikan Salat Zuhur di masjid pondok, Kapolri kemudian berdoa dan menaburkan bunga di makam Gus Dur.
Di balik prosesi ziarah tersebut, ada pesan penting: keamanan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan aparat.
Polri membutuhkan kekuatan sosial dan moral dari para ulama serta tokoh agama untuk menjaga masyarakat tetap bersatu di tengah berbagai potensi perpecahan.
Karena itu, silaturahmi dengan pesantren menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi antara ulama dan umara.
Pesantren bukan sekadar tempat pendidikan agama. Dalam perjalanan bangsa, pesantren juga memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter masyarakat, menjaga nilai kebangsaan, sekaligus menjadi ruang yang efektif untuk merawat persaudaraan.
Kunjungan Kapolri ke Tebuireng sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukan semata-mata pekerjaan polisi.
Ketika masyarakat terbelah oleh perbedaan, ketika toleransi diuji, dan ketika gesekan sosial mudah berkembang menjadi konflik, peran ulama dan tokoh masyarakat menjadi semakin penting.
Di titik inilah sinergi Polri dan pesantren dibutuhkan.
Polisi menjaga keamanan, ulama menjaga kesejukan masyarakat. Keduanya harus berjalan beriringan agar persatuan tidak hanya menjadi slogan.
Ziarah ke makam Gus Dur juga membawa makna tersendiri. Nilai kemanusiaan, demokrasi, toleransi, dan keberagaman yang selama ini melekat pada sosok Gus Dur tetap relevan dalam kehidupan bangsa hari ini.
Dari Tebuireng, pesan yang muncul jelas: merawat Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan hukum dan keamanan. Dibutuhkan keteladanan, komunikasi, toleransi, serta keberanian semua elemen bangsa untuk menjaga persatuan.
Sumber : dari berbagai sumber






