Salamwaras.com,SURABAYA, 8 November 2026 – Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) melalui Ketua Umumnya, Abdur Rozaq Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab disapa Gus Wal, menyampaikan pandangan mengenai rekam jejak, integritas, serta kepemimpinan Komjen Pol. Marthinus Hukom. PNIB menilai pengalaman panjang, keberanian menjaga prinsip, dan pendekatan humanis yang dimiliki Marthinus Hukom layak menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan figur untuk mengisi jabatan strategis pemerintahan, termasuk posisi menteri.
Gus Wal menilai Marthinus Hukom merupakan salah satu figur yang memiliki pengalaman dan pemahaman mendalam terhadap persoalan keamanan nasional, khususnya dalam menghadapi ancaman terorisme, radikalisme, serta berbagai bentuk kejahatan yang berpotensi mengganggu stabilitas dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Salah satu hal yang menjadi perhatian PNIB adalah keberanian Marthinus Hukom dalam menyampaikan sikap dan pandangan yang berbeda dengan kepemimpinan Kapolri pada era Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP).
Menurut Gus Wal, keberanian menyampaikan pandangan kritis secara terbuka merupakan bagian dari integritas seorang pejabat publik. Perbedaan pandangan, selama disampaikan secara profesional, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan bangsa, justru menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola pemerintahan yang sehat.
“Pejabat publik tidak boleh kehilangan keberanian untuk menyampaikan kebenaran dan pandangan kritis. Integritas bukan tentang selalu menyenangkan atasan atau pemegang kekuasaan, melainkan bagaimana seseorang tetap teguh menjaga prinsip, profesionalitas, dan kepentingan bangsa,” ujar Gus Wal.
PENGALAMAN PANJANG DI DUNIA ANTITERORISME
Marthinus Hukom memiliki perjalanan panjang dalam penanganan persoalan terorisme dan keamanan nasional. Sebelum menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), ia pernah memimpin Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri pada periode 2020–2023.
Pengalamannya juga mencakup bidang intelijen, operasi pemberantasan terorisme, serta penugasan di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
PNIB menilai pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam memahami kompleksitas ancaman terhadap bangsa. Terlebih, tantangan keamanan nasional saat ini tidak hanya berkaitan dengan aksi terorisme, tetapi juga perkembangan jaringan radikalisme, penyalahgunaan narkotika, intoleransi, hingga penyebaran ideologi kekerasan.
Gus Wal juga memberikan apresiasi terhadap capaian Densus 88 Antiteror Polri selama Marthinus Hukom menjabat sebagai pimpinan. Menurutnya, upaya menjaga stabilitas keamanan nasional dan mencegah terjadinya serangan teror merupakan bagian penting dari pengabdian kepada negara.
Terkait narasi keberhasilan Indonesia memasuki periode tanpa serangan teror yang berhasil terjadi atau zero attack, PNIB menilai capaian tersebut perlu diapresiasi dengan tetap memperhatikan data, indikator, serta periode pencatatan resmi. Hal itu penting agar penilaian terhadap keberhasilan penanggulangan terorisme tetap objektif dan tidak mengabaikan perkembangan ancaman yang terus berubah.
PENDEKATAN HUMANIS MENJADI KEKUATAN MELAWAN RADIKALISME
Selain pengalaman dan integritas, PNIB secara khusus menyoroti pentingnya pendekatan humanis dalam penanganan terorisme dan radikalisme.
Gus Wal berpandangan bahwa pemberantasan terorisme tidak cukup hanya mengandalkan penangkapan, penindakan, dan penegakan hukum. Diperlukan pula strategi pencegahan, pembinaan, dialog, deradikalisasi, serta pemulihan kesadaran kebangsaan.
“Pendekatan humanis harus menjadi kekuatan dalam melawan ideologi kekerasan. Kita tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaan dalam menghadapi mereka yang terpapar paham radikal. Mereka yang bersedia meninggalkan ideologi kekerasan harus diberikan ruang untuk kembali, bertobat, dan merangkul kembali Merah Putih serta Ibu Pertiwi,” ungkap Gus Wal.
PNIB memandang proses deradikalisasi dan reintegrasi sosial sebagai bagian penting dalam menjaga persatuan bangsa. Mereka yang pernah terjerat kasus terorisme, telah menjalani proses hukum, serta menunjukkan kesungguhan meninggalkan ideologi kekerasan perlu diberikan kesempatan untuk kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.
Menurut Gus Wal, menjaga keamanan negara harus berjalan seiring dengan upaya memulihkan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kecintaan terhadap Tanah Air.
INTEGRITAS LEBIH PENTING DARIPADA PANGKAT DAN KEKUASAAN
Lebih lanjut, Gus Wal menegaskan bahwa integritas seorang pejabat publik tidak semata-mata diukur dari pangkat, jabatan, maupun penghargaan yang pernah diterima. Integritas harus tercermin melalui keberanian menjaga prinsip, konsistensi menjalankan tanggung jawab, serta keberpihakan terhadap keselamatan rakyat dan keutuhan NKRI.
“Indonesia membutuhkan figur-figur yang memiliki pengalaman, keberanian, integritas, dan perspektif kemanusiaan. Jabatan publik jangan hanya menjadi ruang bagi mereka yang pandai membangun kekuasaan, tetapi harus diisi orang-orang yang memiliki rekam jejak pengabdian dan memahami persoalan bangsa,” tegasnya.
Atas dasar itu, PNIB mendorong agar rekam jejak dan pengalaman Marthinus Hukom turut menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan kebutuhan kepemimpinan nasional, termasuk apabila terdapat peluang dan kebutuhan untuk mengemban amanah sebagai menteri.
PNIB menilai Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjawab berbagai tantangan kebangsaan secara komprehensif. Persoalan radikalisme, terorisme, narkotika, intoleransi, serta ancaman perpecahan bangsa membutuhkan figur yang tidak hanya tegas dalam mengambil tindakan, tetapi juga bijaksana, berintegritas, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
MERAH PUTIH HARUS MENJADI PANGGILAN PENGABDIAN
Menutup pernyataannya, Gus Wal menegaskan bahwa jabatan dan kekuasaan seharusnya menjadi sarana pengabdian kepada bangsa dan negara, bukan sekadar instrumen untuk membangun kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Merah Putih harus menjadi panggilan pengabdian, bukan sekadar simbol kekuasaan. Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang berani, berintegritas, humanis, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok maupun kekuasaan,” ujarnya.
Gus Wal menambahkan, Indonesia membutuhkan figur seperti Marthinus Hukom dan figur-figur lain yang memiliki kapasitas, integritas, keberanian, serta ketulusan untuk mengabdikan diri kepada negeri.
“Negara ini membutuhkan figur seperti Marthinus Hukom dan Marthinus Hukom lainnya untuk mengabdi kepada negeri, melayani rakyat dengan setulus hati, penuh dedikasi, dan integritas. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan dan keberanian, tetapi juga hati nurani serta kecintaan yang tulus terhadap Merah Putih dan Ibu Pertiwi,” pungkas Gus Wal.
Bagi PNIB, masa depan Indonesia harus dibangun melalui kepemimpinan yang menjadikan kepentingan rakyat, persatuan bangsa, dan keutuhan NKRI sebagai prioritas utama. Sebab, sejatinya jabatan adalah amanah, kekuasaan adalah tanggung jawab, dan pengabdian kepada Indonesia merupakan kehormatan tertinggi bagi setiap anak bangsa.
Editor : DM MPGI





