SalamWaras, Papua Pegunungan – Penampilan Ribka Haluk, Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, dalam balutan budaya masyarakat Huwulama menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Papua Pegunungan.
Sorotan tertuju pada cara ia mengenakan noken yang digantungkan di bagian depan dada—dalam bahasa lokal dikenal sebagai “Su Elemak” atau “Elemak Su.”
Dalam tradisi masyarakat Huwulama, simbol ini bukan sekadar aksesori budaya. Su Elemak memiliki makna khusus bagi perempuan, terutama dalam konteks upacara adat atau prosesi pernikahan.
Noken yang dikenakan dengan posisi di bagian depan dada umumnya diasosiasikan sebagai atribut yang melekat pada perempuan pengantin baru, sebuah lambang kehormatan, kematangan sosial, sekaligus identitas perempuan dalam struktur adat setempat.
Bagi masyarakat adat Huwulama, noken tidak hanya berfungsi sebagai tas tradisional. Ia adalah simbol kultural yang memuat nilai filosofi, martabat perempuan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang diwariskan turun-temurun di tanah Papua.
Karena itu, ketika publik melihat Wakil Menteri Dalam Negeri mengenakan noken dengan cara digantungkan di bagian depan dada, sebagian masyarakat menafsirkan penampilan tersebut sebagai penggunaan simbol yang dalam tradisi Huwulama identik dengan atribut pengantin perempuan.
Tafsir ini memunculkan diskursus ringan di ruang publik—bahkan tak sedikit yang melontarkan pertanyaan bernada canda: “Apakah ini simbol pengantin baru?”
Namun di sisi lain, banyak kalangan menilai penggunaan simbol tersebut tidak lepas dari konteks kultural yang dipahami oleh sang pejabat sendiri.
Sebagai putri asli Papua yang tumbuh dalam lingkungan budaya lokal, Ribka Haluk diyakini memahami makna dan tata cara penggunaan noken dalam berbagai tradisi masyarakat adat di Papua.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap simbol budaya Papua memiliki aturan adat, makna sosial, dan filosofi mendalam.
Tanpa pemahaman konteks budaya, simbol yang sakral bagi masyarakat adat dapat dengan mudah disalahartikan oleh publik yang tidak mengenal tradisi tersebut secara utuh.
Diskursus ini pada akhirnya menegaskan satu hal penting: noken bukan sekadar tas tradisional, melainkan identitas budaya Papua yang sarat nilai, sejarah, dan penghormatan terhadap perempuan dalam tatanan adat masyarakat pegunungan.






