Salamwaras.com,Jombang, 11 Mei 2026 -Perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama merupakan forum demokrasi tertinggi organisasi yang menaungi para ulama, kiai, santri, kader, dan keluarga besar warga Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia.
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 yang direncanakan berlangsung pada Agustus mendatang, dinamika internal organisasi mulai menghangat. Berbagai pihak mulai melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan PBNU saat ini di bawah Gus Yahya.
Sejumlah kalangan menilai kepemimpinan tersebut belum mampu mengembalikan marwah dan jati diri Nahdlatul Ulama sebagai organisasi ulama yang kuat secara kelembagaan, teduh, maslahat, serta tetap kritis dalam menjadi jembatan kemaslahatan bagi umat dan rakyat Indonesia.
Aliansi Santri Gus Dur menilai bahwa semangat perjuangan demokrasi yang dahulu dibangun oleh Gus Dur belum sepenuhnya tercermin dalam tata kelola organisasi saat ini. Beberapa dinamika pemilihan di berbagai tingkatan organisasi disebut masih diwarnai hambatan terhadap calon-calon yang dianggap berada di luar kelompok tertentu, termasuk dalam proses administrasi dan penerbitan SK kepengurusan.
Selain itu, kepemimpinan PBNU saat ini juga dinilai belum optimal dalam membuka ruang berpikir kritis bagi kader-kader NU untuk mengawal wawasan kebangsaan serta memperjuangkan kepentingan masyarakat. Ketergantungan terhadap kekuasaan dinilai berdampak pada melemahnya sikap kritis organisasi terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap kurang berpihak kepada rakyat.
Kondisi tersebut dinilai berdampak pada menurunnya kepercayaan publik, termasuk dari internal NU sendiri, terhadap institusi Nahdlatul Ulama dalam memperjuangkan kemaslahatan umat dan rakyat Indonesia secara berkeadilan.
Ketua Aliansi Santri Gus Dur, Muhamad Sholihin, yang juga pernah menjadi santri Bahrul Ulum Tambakberas Jombang — pesantren yang didirikan oleh Almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama — menyampaikan bahwa upaya mengembalikan marwah organisasi harus dipimpin oleh sosok yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan keterikatan historis dengan para muassis NU.
Menurutnya, salah satu figur yang dinilai memiliki kapasitas tersebut adalah Gus Muhaimin. Selain berasal dari dzuriyah KH Bisri Syansuri, Gus Muhaimin dinilai memiliki pengalaman panjang sebagai aktivis pergerakan Nahdlatul Ulama, anggota DPR RI, hingga dipercaya menjabat sebagai Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia.
“Gus Muhaimin memiliki pengalaman panjang dalam dunia organisasi, politik kebangsaan, dan pemerintahan. Kami menilai beliau memiliki kapasitas untuk ikut membenahi NU agar menjadi organisasi yang solid, dinamis, terbuka, dan demokratis,” ujar Muhamad Sholihin.
Aliansi Santri Gus Dur berharap Nahdlatul Ulama ke depan mampu menghadirkan kepemimpinan yang membawa maslahat, baik bagi internal organisasi maupun bagi umat dan rakyat Indonesia, dengan tetap menjunjung tinggi nilai keadilan, demokrasi, kemanusiaan, dan penegakan hukum.
Aliansi Santri Gus Dur
Editor : DM






