Salam Waras, Lanny Jaya, Papua Pegunungan – Di negeri yang sering gaduh oleh ambisi dan perebutan kuasa, kadang kita lupa bahwa pemimpin sejati tidak selalu berdiri paling depan dengan suara paling keras.
Ada pemimpin yang bekerja dalam sunyi, berjalan pelan namun pasti, dan hadir bukan untuk dipuja, melainkan untuk melayani.
Di tanah Papua Pegunungan, masyarakat Beam–Kwiyawagi mengenal sosok itu dalam diri Aletinus Yigibalom.
Ia bukan tipe pemimpin yang gemar menonjolkan diri.
Tidak banyak retorika. Tidak banyak panggung. Tetapi mereka yang hidup dekat dengannya tahu: di balik sikap pendiamnya, ada hati yang tulus dan komitmen yang tidak mudah goyah.
Aletinus Yigibalom tumbuh dari kehidupan sederhana. Ia belajar taat kepada orang tua, menghormati nilai iman, dan memahami arti pengabdian sejak kecil.
Perjalanan hidupnya ditempa dalam lingkungan pelayanan gereja, salah satunya di Gereja Baptis Onggeme.
Dari tempat itu ia belajar tentang kesetiaan, kejujuran, dan tanggung jawab kepada sesama.
Nilai-nilai itulah yang membentuk karakter kepemimpinannya hari ini.
Bagi masyarakat Lani, pemimpin bukan sekadar pejabat yang duduk di kursi kekuasaan.
Pemimpin adalah “bapa rakyat” — seseorang yang mampu merasakan luka rakyatnya, mendengar keluhan mereka, dan berjalan bersama mereka.
Dan dalam banyak cerita yang beredar di masyarakat, Aletinus Yigibalom dikenal sebagai pemimpin yang lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Ia hadir di tengah masyarakat kecil. Merangkul mereka yang lemah. Memberi nasihat. Menanamkan harapan. Dan mengajak rakyatnya melihat masa depan dengan keyakinan.
Pendiam bukan berarti tidak mampu. Pendiam sering kali justru tanda bahwa seseorang lebih memilih bekerja daripada berjanji.
Dalam kepemimpinannya di Kabupaten Lanny Jaya, ia membawa visi Lanny Jaya Mandiri, Cerdas, dan Sehat (MCS). Sebuah gagasan pembangunan yang dimulai dari kampung menuju kota.
Ide ini sederhana namun kuat: jika kampung kuat, maka kota akan ikut kuat. Jika rakyat di akar rumput berdaya, maka pembangunan akan tumbuh dengan sendirinya.
Pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat, dan infrastruktur menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat.
Namun seperti setiap perjalanan kepemimpinan, jalan itu tidak selalu mudah. Tantangan datang dari berbagai arah—dari dalam maupun dari luar.
Tetapi sejarah selalu menunjukkan bahwa pemimpin yang lahir dari kesederhanaan biasanya memiliki daya tahan yang lebih kuat.
Karena mereka tidak memimpin demi jabatan, tetapi demi pengabdian.
Bagi masyarakat Lani, nilai-nilai kepemimpinan tetap berakar pada prinsip-prinsip luhur:
keadilan, kejujuran, kesetaraan, kasih, dan kedamaian.
Nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi dalam membangun masa depan Lanny Jaya.
Dalam Kitab Ibrani 13:17 tertulis:
“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan bukan sekadar kekuasaan, melainkan tanggung jawab besar terhadap kehidupan orang lain.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi, mungkin kita memang membutuhkan lebih banyak pemimpin seperti Aletinus Yigibalom:
- pemimpin yang tidak banyak bicara, tetapi banyak bekerja.
- pemimpin yang tidak mencari panggung, tetapi mencari jalan bagi rakyatnya.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang paling keras bersuara.
Sering kali sejarah justru ditulis oleh mereka yang bekerja dalam diam… namun memberi harapan bagi banyak orang.
Tuhan memberkati tanah Papua dan seluruh rakyat Indonesia.






