Salamwaras.com,Cirebon, 24 Mei 2026 — Sebuah gerakan besar untuk mentransformasi wajah pendidikan pesantren di Indonesia resmi dimulai dari Cirebon. Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, menggagas program nasional yang menargetkan 5.000 pengasuh pesantren dari 34 provinsi mengikuti workshop pengembangan dan inovasi pesantren sepanjang tahun 2026.
Program yang digagas melalui Pesantren Bina Insan Mulia dan Imam Jazuli Foundation tersebut tidak sekadar menjadi pelatihan biasa. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya percepatan transformasi sistem pendidikan, tata kelola kelembagaan, pelayanan santri, hingga strategi pengembangan pesantren agar lebih adaptif menghadapi tantangan zaman.
Workshop perdana digelar di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon pada Sabtu (23/5/2026). Sebanyak 108 pengasuh pesantren dari wilayah Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu mengikuti kegiatan tersebut setelah lolos seleksi panitia.
Menurut KH Imam Jazuli, kebutuhan transformasi pesantren saat ini semakin mendesak. Pesantren, menurutnya, tidak cukup hanya mempertahankan tradisi keilmuan, tetapi juga harus mampu membangun sistem yang relevan dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan generasi masa depan.
“Banyak peserta workshop sebelumnya menyampaikan bahwa dampaknya sangat signifikan terhadap perubahan pesantren mereka. Karena itu, kali ini kami menyusun program lebih sistematis, lebih detail, lebih membumi, bahkan akan ada pendampingan lanjutan,” ujar KH Imam Jazuli.
Pesantren Harus Bergerak atau Tertinggal
Dalam enam sesi materi yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari, KH Imam Jazuli menekankan pentingnya keberanian pesantren untuk beradaptasi dengan perubahan.
Ia mengingatkan bahwa banyak organisasi besar di dunia runtuh bukan karena perubahan itu sendiri, melainkan karena gagal merespons perubahan secara tepat.
“Pesantren harus belajar dari runtuhnya korporasi besar dunia yang gagal merespons perubahan dengan cepat. Kematian organisasi bukan karena perubahan, tetapi karena kegagalan strategi dalam menghadapi perubahan,” tegasnya.
Materi workshop tidak hanya berisi motivasi, tetapi juga membahas strategi praktis pengembangan pesantren, penyusunan kurikulum yang menarik, peningkatan layanan kepada santri dan wali santri, hingga teknik membangun kepercayaan masyarakat agar jumlah santri terus bertambah.
Ditargetkan Menjangkau 34 Provinsi
Program transformasi ini akan digelar setiap pekan hingga akhir Desember 2026. Untuk Pulau Jawa, panitia menargetkan sekitar 2.000 peserta dengan kuota rata-rata 400 pengasuh pesantren per provinsi.
Khusus Jawa Barat, sebanyak 400 pengasuh pesantren ditargetkan mengikuti workshop hingga awal Juni 2026. Selanjutnya, program akan diperluas ke Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten mulai Juni hingga Agustus 2026.
Sementara itu, untuk wilayah luar Pulau Jawa, setiap provinsi diproyeksikan mengirimkan 100 hingga 150 peserta sehingga total peserta nasional diperkirakan mencapai 5.000 pengasuh pesantren.
Menariknya, seluruh biaya kegiatan ditanggung penuh oleh penyelenggara. Peserta mendapatkan fasilitas transportasi, akomodasi, sertifikat, buku panduan, hingga kesempatan memperoleh berbagai doorprize, mulai dari voucher menginap di hotel, wisata religi Walisongo, hingga perjalanan luar negeri.
Peserta: “Isinya Daging Semua”
Respons peserta terhadap workshop perdana ini pun sangat positif. Banyak pengasuh pesantren mengaku mendapatkan panduan konkret yang selama ini sulit ditemukan dalam forum-forum sejenis.
Pengasuh Pesantren Akmala Sabila, KH Habib Khaerussani, mengaku selama ini pembahasan perubahan pesantren yang ia ikuti lebih banyak berisi motivasi semata.
“Di workshop ini saya mendapatkan motivasi, strategi, metode, sistem, dan panduan teknis dengan langkah-langkah yang jelas dan terukur untuk melakukan perubahan demi kemajuan pesantren yang saya asuh,” katanya.
Hal senada disampaikan KH Asep Abdul Aziz dari Pesantren Miftahul Mubarak. Menurutnya, workshop tersebut membuka perspektif baru tentang cara membangun sistem pendidikan dan strategi pengembangan santri secara lebih modern.
Sementara itu, KH Ence Burhanuddin dari Pesantren Al-Amin menyebut seluruh materi yang disampaikan sangat aplikatif dan langsung menyentuh persoalan yang dihadapi pesantren.
“Isinya daging semua. Penyampaiannya menarik, berbasis fakta, data riset, pengalaman, dan langsung mengarah pada solusi,” ujarnya.
Gerakan transformasi pesantren yang dimulai dari Cirebon ini juga mendapat dukungan berbagai tokoh dan pejabat daerah, termasuk jajaran Kementerian Agama serta pengurus NU di wilayah Ciayumajakuning.
Mereka menilai inisiatif KH Imam Jazuli menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing pesantren sekaligus menjaga relevansinya sebagai pusat pendidikan Islam di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Bagi pengasuh pesantren di seluruh Indonesia yang berminat mengikuti workshop ini, pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut:
�
pesantrenbima.com
Konfirmasi pendaftaran dapat dilakukan melalui:
• Ustadz Abd Rahman: 0877-2008-0569
• Ustadz Hasyim: 0853-2100-6000
Peserta yang dapat mengikuti program ini adalah pengasuh pesantren dengan jumlah santri mukim minimal 100 hingga 1.000 santri. Kehadiran wajib diikuti langsung oleh pengasuh pesantren dan tidak dapat diwakilkan karena berkaitan dengan kebijakan strategis pengembangan pesantren.
Editor : DM MPGI






