Gema “Sulsel Ewako” di Bumi Cenderawasih: Cerita Heboh dari Panggung Solo Remaja Pesparawi

MANOKWARI – Memasuki hari kedua kompetisi akbar Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 pada Selasa (23/6/2026), atmosfer di Gedung PKK Provinsi Papua Barat mendadak membara. Dua solois andalan Kontingen Sulsel yang turun di kategori Solo Remaja Pemuda Putera (SRP-Pa) dan Solo Remaja Pemuda Puteri (SRP-Pi) sukses menyuguhkan penampilan yang luar biasa di atas panggung megah tersebut.

Dua talenta muda yang unjuk gigi pada waktu berbeda ini adalah Oktovianus Lulembang, delegasi dari LPPD Kabupaten Tana Toraja, dan Akhaya Virelya Palamba yang mewakili LPPD Kota Makassar. Oktovianus yang memegang nomor undian 19 di kategori SRP-Pa tampil memukau pada pagi hari sekitar pukul 10.20 WIT, sementara Akhaya Virelya dengan nomor undian 34 di kategori SRP-Pi menggebrak panggung malam hari sebagai penutup lomba sekitar pukul 20.00 WIT.

Saat melangkah ke atas pentas di hadapan dewan juri yang diisi oleh deretan pakar musik dan seni suara legendaris tanah air—Yohan Tinungki, S.Mus, M.Mus, Yudi Komalig, dan Bornok Huauruk—Oktovianus Lulembang langsung mencuri perhatian. Ia tampil elegan mengenakan setelan kemeja dan celana panjang hitam, yang dipermanis dengan sentuhan motif batik khas Tana Toraja pada lengan kanannya.

Diringi oleh petikan piano yang begitu dinamis dari jemari lincah Julian Saputra, solois berbakat ini berhasil menghipnotis ruangan melalui teknik vokal berkelas. Dua lagu andalannya, yakni lagu wajib “Tuhan Perlindunganku” karya Yusuf Simorangkir serta lagu pilihan terikat “Lagu Kedamaian” ciptaan Krisna Yonathan, dibawakannya dengan sangat penuh penghayatan.

Kegemilangan Kontingen Sulsel semakin lengkap saat giliran kategori SRP-Pi dimulai. Akhaya Virelya Palamba, gadis menawan berusia 19 tahun, sukses meneruskan tren positif para duta suara Sulsel yang telah tampil gemilang sebelumnya. Mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM) berpostur tinggi-besar ini langsung memikat hati seluruh penonton dan panitia yang memadati Gedung PKK Papua Barat.

Balutan gaun panjang merah menyala berpadu corak ukiran Toraja kombinasi cokelat-putih di bagian depan membuat penampilannya kian anggun. Diiringi oleh pianis senior Kota Makassar, Eveline Maria Philips, ST, Akhaya menggelegarkan suara emasnya di hadapan barisan juri papan atas nasional, yaitu Fonti Nalan, Linda Sitinjak, dan Rudolf Hehanusa.

Totalitas Akhaya terlihat lewat pembawaan dua buah lagu yang memamerkan kematangan vokal, kontrol teknik yang presisi, serta penguasaan panggung yang sangat menawan. Lagu wajib berjudul “Ku Mau MemujiMu” (Kaleb Yuseli) serta lagu pilihan “Mari Puji Nama Tuhan” (Septhian Catur Pamungkas) diselesaikannya dengan sempurna hingga mengundang decak kagum.

Begitu Akhaya selaku penampil pamungkas menyudahi lagunya, Gedung PKK langsung bergemuruh oleh tepuk tangan riuh dan seruan lantang “Sulsel… Ewako!”. Sekitar seratusan pendukung Kontingen Sulsel yang hadir tak mampu membendung rasa haru dan bangga mereka. Mereka spontan berlarian ke depan panggung, merayakan momen emosional tersebut sambil berfoto bersama dan menyanyikan yel-yel kebanggaan.

Suasana semakin pecah ketika seluruh panitia Pesparawi XIV yang bertugas di lokasi tanpa aba-aba ikut berlari ke depan panggung demi larut dalam euforia kebahagiaan bersama rombongan dari Bumi Sawerigading ini. Tak ketinggalan, para petugas PLN, teknisi sound sistem, hingga penonton lainnya ikut melebur menjadi satu di depan altar kompetisi.

Puncak kehebohan terjadi saat operator memutarkan lagu populer tanah Papua yang bernuansa rohani, “Tari Yospan Rohani”. Alunan musik yang begitu rancak dan penuh energi itu seketika membuat ratusan orang yang terdiri dari kontingen Sulsel, panitia, dan pengunjung langsung membentuk lingkaran besar, berpegangan tangan, lalu bergerak mengitari ruangan.

Mereka menari bersama, memperagakan gerakan Tari Dero yang bersemangat mengikuti ketukan lagu. Menariknya, Tari Dero yang merupakan warisan budaya asli Sulawesi Tengah dan sangat populer di Luwu Timur (Sulsel) ini memiliki kemiripan gerakan dengan tradisi lokal Papua, di mana seorang warga Manokwari menyebut fenomena tarian kebersamaan tersebut sebagai ‘Gaya Seka-seka’. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *