Salam waras.com KAJEN, – Di balik sirine yang meraung dan aksi heroik di lapangan, tersimpan realita yang jarang tersorot. Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Pekalongan masih harus berjibaku dengan berbagai keterbatasan, di tengah tuntutan tugas yang mempertaruhkan nyawa.
Sebagai garda terdepan dalam penanganan kebakaran dan situasi darurat, Damkar Kabupaten Pekalongan memegang peran vital dalam melindungi masyarakat. Tidak hanya memadamkan api, mereka juga terlibat dalam berbagai upaya penyelamatan, evakuasi, hingga penanganan kondisi darurat lainnya.
Namun realita di lapangan tidak selalu seideal tugas yang diemban. Saat musim kemarau, potensi kebakaran meningkat drastis, baik di permukiman warga maupun lahan kosong. Kondisi ini menuntut kesiapan maksimal dari petugas Damkar agar api tidak meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar.
Di sisi lain, persoalan klasik masih membayangi. Keterbatasan armada, minimnya alat pelindung diri (APD), serta fasilitas yang belum memadai menjadi tantangan nyata. Dalam beberapa kesempatan, kondisi sarana dan prasarana Damkar di wilayah Pekalongan juga disorot karena dinilai masih perlu peningkatan agar pelayanan bisa lebih optimal.
Ironisnya, di tengah segala keterbatasan tersebut, petugas Damkar tetap dituntut sigap menghadapi risiko tinggi—mulai dari kobaran api, asap tebal, hingga potensi ledakan. Setiap panggilan tugas adalah pertaruhan, tanpa jaminan keselamatan yang sepenuhnya memadai.
Beban kerja yang tinggi juga belum sepenuhnya diimbangi dengan jumlah personel yang ideal. Padahal, kecepatan respon sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia dan peralatan di lapangan.
Masyarakat Kabupaten Pekalongan tentu berharap Damkar selalu hadir dengan cepat saat musibah terjadi. Namun kesiapan itu tidak bisa hanya mengandalkan dedikasi petugas semata. Perlu dukungan nyata dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk anggaran, penambahan armada, peningkatan fasilitas, maupun penguatan jumlah personel.
Sudah saatnya pemerintah membuka mata dan hati. Damkar bukan sekadar layanan pendukung, melainkan benteng terakhir penyelamat masyarakat saat bencana terjadi.
Jika api terus berkobar sementara alat pemadam terbatas, maka yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan, tetapi juga nyawa manusia.
Dan ketika Damkar sudah berjuang habis-habisan di garis depan, pertanyaannya tinggal satu: masihkah pemerintah akan menutup mata? ( jambul)






