MAUT DI JALUR TERJAL: Feroza Terjun 200 Meter di Karanganyar–Lebakbarang, Balita Tewas, Teriakan Minta Tolong Menggema dari Dasar Jurang

Salam waras.com PEKALONGAN – Jalur pegunungan Karanganyar–Lebakbarang kembali memakan korban. Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 15.00 WIB, sebuah Daihatsu Feroza bernomor polisi R 1408 FJ terjun bebas ke jurang sedalam kurang lebih 200 meter di Blok Sirewok, Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar. Satu balita meninggal dunia, tujuh lainnya luka-luka.

Kecelakaan ini bukan sekadar insiden biasa—ini tragedi yang menggambarkan betapa mematikannya jalur ekstrem tersebut ketika kelalaian, kondisi kendaraan, atau faktor lain bertemu dalam satu titik.

Korban meninggal dunia adalah DM (2), seorang balita yang tak sempat diselamatkan. Sementara tujuh penumpang lainnya, termasuk pengemudi Mila Y (24), mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke RSUD Kajen.

Namun di balik tragedi ini, muncul kisah dramatis yang mengguncang hati. Seorang remaja perempuan bernama Meli, adik pengemudi, berhasil menyelamatkan diri dari dasar jurang. Dalam kondisi syok dan penuh luka, ia merangkak naik hingga ke jalan raya, lalu menghentikan kendaraan yang melintas.

“Mas, tolong Mas, mobil Mbak saya masuk jurang, tolong dibantu!” teriaknya, memecah sunyi jalur pegunungan yang selama ini dikenal rawan.

Sudarsono (46), warga Kutorembet, menjadi salah satu saksi kunci sekaligus penolong pertama. Ia mengaku sempat disalip mobil tersebut beberapa ratus meter sebelum lokasi kejadian—tanpa menyadari bahwa tak lama kemudian kendaraan itu justru terjun ke jurang.

“Saya tidak tahu kalau masuk jurang. Tiba-tiba Meli datang minta tolong. Saya langsung putar balik,” ungkapnya.

Saat tiba di lokasi, warga sudah lebih dulu turun ke dasar jurang untuk melakukan evakuasi manual—tanpa alat memadai, hanya mengandalkan keberanian dan kepedulian.

Mobil ditemukan dalam kondisi terbalik, roda di atas, menghantam dasar jurang berbatu yang curam dan sulit dijangkau. Barang belanjaan berserakan, menjadi saksi bisu perjalanan terakhir rombongan tersebut yang diketahui baru pulang mempersiapkan acara sunatan keluarga.

“Yang saya bawa ke rumah sakit sekitar enam orang. Semua luka,” kata Sudarsono.

Sementara itu, Prayitno (45), warga Sidomulyo, yang kebetulan melintas, mengaku sempat panik saat turun ke lokasi. Ia bahkan sempat salah bertindak saat mencoba mematikan mesin mobil.

“Mesin masih hidup. Saya mau matikan, malah sempat menstarter lagi karena panik,” ujarnya.

Ia turut mengevakuasi seorang anak dari dasar jurang. Menurutnya, hampir seluruh korban mengalami luka serius, termasuk balita yang akhirnya tak tertolong akibat cedera kepala.

Mobil tersebut diketahui mengangkut delapan orang—lima perempuan dan tiga anak laki-laki—semuanya warga Dukuh Karanggondang, Desa Lebakbarang.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan. Namun satu hal kembali menjadi sorotan: jalur Karanganyar–Lebakbarang bukan sekadar jalan penghubung, melainkan lintasan berisiko tinggi yang berulang kali menelan korban.

Pertanyaannya, sampai kapan jalur ini dibiarkan tanpa pengamanan maksimal? Berapa lagi nyawa harus melayang sebelum ada langkah nyata? (Jambil)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *