Salamwaras.COM | KAJEN — Malam Apresiasi Duta Genre Kabupaten Pekalongan tidak sekadar menjadi ajang penghargaan bagi generasi muda berprestasi. Momentum tersebut dimanfaatkan Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., untuk mendorong tiga agenda penting yang berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda dan ketahanan keluarga.
Tiga agenda tersebut meliputi pencegahan perkawinan dini, edukasi bahaya penyalahgunaan narkoba, serta peluncuran program SAKPORE (Satu Jam Tanpo Hape).
Ketiganya menjadi pesan penting bahwa membangun generasi muda berkualitas tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial. Dibutuhkan kesadaran, pendampingan, dan gerakan nyata yang dimulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat.
Cegah Perkawinan Dini, Lindungi Masa Depan Remaja
Pencegahan perkawinan dini menjadi perhatian karena menyangkut masa depan remaja, kesiapan mental, pendidikan, kesehatan, serta kemampuan membangun kehidupan berkeluarga.
Remaja perlu diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi, menyelesaikan pendidikan, dan mempersiapkan masa depan secara matang.
Di sisi lain, bahaya penyalahgunaan narkoba juga menjadi ancaman yang tidak boleh dianggap sepele. Perlu keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah hingga komunitas pemuda untuk membangun lingkungan yang aman dan sehat bagi generasi penerus.
Dalam konteks tersebut, keberadaan Duta Genre diharapkan tidak berhenti pada gelar dan penghargaan. Mereka juga memiliki tanggung jawab menjadi agen edukasi, menyampaikan pesan positif, serta mengajak teman sebaya menjauhi perilaku berisiko.
SAKPORE: Satu Jam Tanpo Hape, Kembalikan Kehangatan Keluarga
Selain mengangkat persoalan remaja, Bupati Sukirman juga meluncurkan gagasan program SAKPORE atau Satu Jam Tanpo Hape.
Program ini mengajak masyarakat meluangkan sedikitnya satu jam setiap hari untuk berinteraksi bersama keluarga tanpa gangguan telepon genggam.
Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbincang, makan bersama, mendampingi anak belajar, membaca buku, maupun melakukan kegiatan positif lainnya.
Di tengah perkembangan teknologi digital, telepon genggam memang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaan yang berlebihan berpotensi mengurangi kualitas komunikasi dan kebersamaan di dalam rumah.
Melalui SAKPORE, keluarga diajak membangun kembali kebiasaan sederhana yang sering terlupakan: saling mendengarkan, berbagi cerita, dan memberikan perhatian secara langsung.
Orang tua dapat lebih memahami aktivitas maupun persoalan yang dihadapi anak. Sebaliknya, anak juga memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman dan perasaannya tanpa terganggu aktivitas digital.
Pesan program ini sederhana, tetapi memiliki makna penting: satu jam tanpa hape dapat menjadi langkah awal membangun keluarga yang lebih dekat dan harmonis.
Jangan Berhenti pada Seremonial
Tiga agenda yang digaungkan dalam Malam Apresiasi Duta Genre tersebut memiliki keterkaitan erat. Pencegahan perkawinan dini menyangkut kesiapan masa depan remaja, perang terhadap narkoba berkaitan dengan perlindungan generasi muda, sedangkan SAKPORE memperkuat keluarga sebagai lingkungan pertama pembentukan karakter.
Namun, tantangan sesungguhnya bukan terletak pada banyaknya program yang diluncurkan, melainkan bagaimana memastikan program tersebut berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pencegahan perkawinan dini membutuhkan edukasi dan pendampingan berkelanjutan. Perlawanan terhadap narkoba membutuhkan pengawasan serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Sementara SAKPORE perlu dibangun menjadi kebiasaan nyata di setiap rumah tangga.
Karena itu, sinergi pemerintah daerah, sekolah, pemerintah desa, keluarga, dan komunitas remaja menjadi penting agar ketiga agenda tersebut tidak berhenti sebagai slogan kegiatan.
Pada akhirnya, keberhasilan membangun generasi muda tidak cukup diukur dari kemeriahan acara dan penghargaan yang diberikan. Ukuran sesungguhnya adalah perubahan perilaku, meningkatnya kesadaran masyarakat, serta lahirnya keluarga yang mampu memberikan lingkungan positif bagi tumbuh kembang anak.
Satu jam tanpa hape, remaja terlindungi dari narkoba, dan masa depan yang direncanakan dengan matang. Tiga pesan ini menjadi pekerjaan bersama untuk mewujudkan generasi Kabupaten Pekalongan yang lebih berkualitas. (Jambul)






