Keracunan MBG di Cianjur, Alarm Keras yang Bertentangan dengan Pesan Tegas Presiden Prabowo

Salam Waras, Cianjur, Jabar  –  Insiden keracunan massal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi dan menjadi peringatan serius bagi seluruh pihak.

Kali ini, peristiwa memilukan tersebut menimpa 204 siswa SD dan PAUD di Kecamatan Cikalongkulon, Kadupandak, dan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, pada Selasa lalu. Mayoritas korban merupakan anak-anak berusia di bawah 10 tahun.

Bacaan Lainnya

Tak hanya siswa, sejumlah orang tua murid yang turut mencicipi hidangan MBG dilaporkan mengalami mual hebat, pusing, hingga muntah-muntah, sehingga harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas setempat.
Kapolsek Cikalongkulon menyampaikan bahwa pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan mendalam.

Berdasarkan keterangan warga, lauk ayam suwir diduga menjadi sumber masalah karena tercium aroma tidak sedap sebelum dikonsumsi. Seluruh sisa makanan telah diamankan untuk uji laboratorium guna memastikan penyebab pasti keracunan.

Peristiwa ini menjadi sorotan tajam karena bertolak belakang dengan pesan dan peringatan Presiden Prabowo Subianto terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo secara tegas menekankan bahwa MBG adalah program strategis nasional yang menyangkut masa depan generasi bangsa, sehingga tidak boleh dikelola secara sembarangan, apalagi demi keuntungan semata.

Presiden Prabowo juga kerap mengingatkan bahwa keselamatan, kualitas gizi, kebersihan, dan pengawasan ketat adalah harga mati dalam pelaksanaan MBG. Anak-anak, menurut Presiden, tidak boleh menjadi korban kelalaian sistem, keserakahan, maupun lemahnya pengawasan di lapangan.

Sejalan dengan itu, Aktivis Nasional Putri Nabila Damayanti, SH, putri daerah asal Pacet–Cipanas, Cianjur, turut menyampaikan kritik keras. Ia menilai kasus ini sebagai bukti bahwa pengelolaan MBG oleh pihak ketiga sangat rawan penyimpangan.

“Ini menyedihkan. Anak-anak justru menjadi korban. Padahal sejak awal saya sudah mengingatkan, MBG seharusnya dikelola langsung oleh pihak sekolah, bukan diserahkan ke pihak ketiga yang berorientasi proyek,” ujar Putri kepada awak media, Minggu (1/2/2026).

Menurutnya, pengelolaan oleh sekolah akan jauh lebih aman karena pihak sekolah memahami kondisi siswa, standar kebersihan, serta menu yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak.

“Kalau sekolah yang kelola, risiko keracunan bisa ditekan. Ini soal tanggung jawab moral,” tegasnya.

Putri juga menyinggung peringatan Presiden Prabowo agar MBG tidak dijadikan ladang bisnis.

“Pesan Presiden jelas, program ini untuk anak-anak, bukan untuk memperkaya pengusaha. Jangan sampai MBG berubah menjadi proyek untung besar sementara keselamatan anak diabaikan,” katanya.

Lebih jauh, ia menilai pengelolaan MBG oleh sekolah justru dapat memberi manfaat tambahan.

“Kalau dikelola sekolah, ini bisa menjadi tambahan pemasukan yang sah dan transparan bagi guru, bukan keuntungan harian bagi segelintir pihak,” tutup Putri.

Kasus keracunan MBG di Cianjur ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah, pelaksana teknis, dan seluruh pemangku kepentingan.

Pesan Presiden Prabowo Subianto sudah jelas: Program Makan Bergizi Gratis harus dijalankan dengan disiplin, integritas, dan pengawasan ketat, karena yang dipertaruhkan bukan hanya program, melainkan masa depan anak-anak Indonesia.

(Megy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *