Sambar.id, Sinjai, Sulsel — Di pusat kekuasaan, Presiden Prabowo Subianto menggelegar lantang. Dalam arahannya kepada Kejaksaan Agung, Presiden menegaskan komitmen pemerintah untuk menghabisi korupsi hingga akar-akarnya.
“Jangan takut tangkap maling uang negara!
Uang itu harus kembali kepada rakyat!”
— Presiden Prabowo Subianto
Pesan itu disambut publik sebagai tanda perubahan besar. Negara disebut akan berdiri tegas membela kepentingan rakyat, memberangus para pencuri uang bangsa.
Tapi pada saat yang sama, di sudut desa yang jauh dari keramaian Jakarta — rakyat juga sedang berteriak. Bukan soal koruptor, melainkan maling sapi yang menghantam hidup mereka tanpa ampun.
Curnak Beruntun: Empat Kali Desa Diserang, Empat Kali Warga Kehilangan Harapan
Dalam lima bulan terakhir, Tellulimpoe diguncang empat kasus pencurian ternak: Samaturue — 4 ekor sapi hilang, Saotengah — 2 ekor sapi hilang, Massaile — 2 ekor sapi hilang & Massaile — 1 ekor sapi hilang (kasus terbaru)
Semua terjadi dini hari, bergerak cepat, rapi, minim jejak. Semua terjadi tanpa satu pun pelaku ditangkap.
Di desa ini, kehilangan satu sapi berarti kehilangan nafas kehidupan.
“Kami hidup dari sapi. Kalau hilang, habis harapan kami,” keluh seorang warga dengan mata yang lelah.
Kini warga berjaga malam, lampu kandang menyala, tidur tinggal sisa — menanti suara gaduh yang bisa berarti sumber hidup mereka sedang dicuri.
SP2HP Datang — Kehadiran Hukum Masih Jauh
Untuk laporan terbaru, penyidik Polres Sinjai menerbitkan SP2HP. ada harapan tertulis. Ada janji untuk memeriksa saksi dan mengumpulkan bukti.
Namun, secarik kertas belum mampu menghapus takut: sapi belum kembali, pelaku masih bebas.
Pertanyaan Menggema di Desa: Apakah Hukum Hanya Tegas untuk Mereka yang di Kota?
Presiden memerintahkan berani tangkap maling uang negara. Instruksi itu jelas, keras, dan menggugah.
Tetapi warga bertanya dalam diam:
Jika negara begitu berani menghadirkan keadilan untuk miliaran uang negara, kenapa keadilan untuk satu ekor sapi rakyat kecil terasa begitu sulit ditemukan?
Apakah penegakan hukum hanya bersinar di panggung besar?, Apakah negara hadir hanya ketika banyak kamera menyaksikan?
Keadilan Tak Boleh Tertinggal di Belakang Pagar Kandang
Korupsi merampas uang negara.
Curnak merampas masa depan keluarga petani.
Satu di televisi, satu di halaman belakang —
keduanya sama-sama mencuri hak rakyat.
Jika pemerintah benar ingin menghadirkan negara hingga ke akar kehidupan rakyat,
maka daerah seperti Tellulimpoe harus juga merasakan ketegasan itu.
Bukan nanti, bukan besok. Karena rasa takut warga sudah datang lebih cepat daripada bantuan.
SalamWaras: Negara Hadir, Bukan Saat Ramai — Tapi Saat Rakyat Tak Berdaya
Presiden sudah bicara lantang.
Kini masyarakat menunggu:
Apakah keberanian itu menjalar hingga ke desa terpencil?, Apakah yang dicuri di kota dan yang dicuri di kandang akan sama-sama dikejar?
Tellulimpoe masih berjaga. Warga masih menunggu.
Dan di bawah langit desa yang gelap itu, sebuah pertanyaan terus berputar: Apakah hukum sedang berlari menjemput keadilan…
atau kini malah tertinggal di belakang kandang yang kosong?






