SALAM WARAS, PEKALONGAN — Literasi keuangan bagi generasi muda tak lagi sekadar pengetahuan tambahan. Di tengah maraknya pinjaman daring, paylater, dan gaya hidup konsumtif, kemampuan mengelola uang menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi.
Pesan itu mengemuka dalam Campus Finance Talk di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan, Jumat (25/9/2026) siang. Kegiatan yang difasilitasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan diinisiasi Anggota DPR RI Muhammad Hanif Dhakiri tersebut turut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S.
Sukirman menilai edukasi perencanaan keuangan bagi mahasiswa sejalan dengan agenda pemberdayaan masyarakat yang tengah didorong Pemerintah Kabupaten Pekalongan.
“Alhamdulillah OJK yang diinisiasi juga oleh Pak Hanif Dhakiri membawa acara dialog atau sosialisasi tentang perencanaan keuangan bagi generasi muda. Ini akan sangat nyambung dengan program yang kita lakukan,” kata Sukirman.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan fisik. Di tengah keterbatasan fiskal, pemberdayaan masyarakat perlu berjalan beriringan agar pembangunan menghasilkan masyarakat yang lebih mandiri.
Pemkab Pekalongan, kata Sukirman, saat ini masih berkonsentrasi pada pembenahan infrastruktur, mulai dari jalan, irigasi, jembatan hingga sarana pendukung lainnya.
“Dengan berupaya memberikan perimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan pemberdayaan masyarakatnya, program-program semacam ini menjadi penyeimbang,” ujarnya.
Sukirman juga mengapresiasi sinergi dengan OJK dan Muhammad Hanif Dhakiri. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung program pemerintah pusat sekaligus memperkuat kolaborasi dengan para pemangku kepentingan.
Anak Muda dan Jerat Pinjaman Digital
Sementara itu, Muhammad Hanif Dhakiri mengingatkan mahasiswa agar tidak keliru memahami kekayaan. Menurutnya, aset penting dalam kehidupan finansial bukan semata jumlah uang yang dimiliki, melainkan kemampuan mengelolanya.
Ia menyoroti perubahan pola konsumsi generasi muda seiring pesatnya perkembangan teknologi finansial. Pinjaman daring dan fasilitas paylater menjadi salah satu fenomena yang perlu dipahami secara kritis.
“Data menunjukkan penggunaan paylater terus meningkat dan didominasi oleh anak muda. Ini yang harus kita waspadai,” kata Hanif.
Ia mengingatkan, kemudahan memperoleh pembiayaan tidak selalu berarti seseorang memiliki kemampuan untuk membayarnya kembali.
Hanif juga meminta mahasiswa tidak mudah percaya terhadap tawaran finansial yang terlihat terlalu menguntungkan.
“Di zaman sekarang, kalau ada tawaran yang sifatnya ‘enak banget’, justru wajib dicurigai. Bahasa anak mudanya too good to be true,” tuturnya.
Pesannya sederhana: sebelum mengambil keputusan finansial, generasi muda harus memahami risiko, biaya, kewajiban pembayaran, serta konsekuensi jangka panjangnya.
Kampus Tak Hanya Bicara Akademik
Wakil Rektor UIN Gus Dur Pekalongan, Dr. H. Muhammad Hasan Bisri, M.Ag., menyambut positif kegiatan tersebut.
Menurutnya, literasi keuangan penting untuk membentuk mahasiswa yang mampu mengendalikan pola konsumsi dan gaya hidup.
“Kadang-kadang gaya hidup mengalahkan segalanya—yang penting tampilan keren dan nongkrong di kafe, padahal uangnya tidak tahu dari mana,” ujarnya.
Hasan Bisri menilai mahasiswa perlu didorong bukan hanya menjadi konsumen, tetapi juga produktif dan mampu menciptakan sumber pendapatan secara mandiri.
Ia menyebut sejumlah mahasiswa UIN Gus Dur telah mulai membangun usaha sejak bangku kuliah. Bahkan, menurutnya, terdapat mahasiswa yang mampu mencatat omzet hingga Rp2 miliar dari usaha batik pada momentum Lebaran.
“Pengelolaan keuangan bisa dilakukan sejak dini dengan hidup hemat serta berupaya produktif,” katanya.
Campus Finance Talk akhirnya bukan sekadar forum sosialisasi keuangan. Di tengah perubahan gaya hidup dan semakin mudahnya akses terhadap berbagai produk finansial, edukasi semacam ini menempatkan mahasiswa pada satu pesan penting: menghasilkan uang penting, tetapi kemampuan mengelolanya jauh lebih menentukan.





