Pendidikan Kehilangan Ruh, Sistem Dinilai Terjebak pada Angka dan Peringkat

Salamwaras. com JAKARTA – Dunia pendidikan dinilai tengah mengalami krisis mendasar, di mana esensi belajar perlahan tereduksi menjadi sekadar kompetisi angka dan peringkat. Orientasi lembaga pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada capaian statistik dan formalitas dianggap telah menggeser tujuan utama pendidikan itu sendiri.

Pengamat pendidikan menyebut, kondisi ini membuat kebebasan berpikir dan rasa ingin tahu peserta didik semakin terpinggirkan. Proses belajar tidak lagi diarahkan untuk memahami realitas secara mendalam, melainkan membentuk individu yang patuh terhadap sistem kompetisi. Dampaknya, lulusan cenderung diposisikan sebagai roda penggerak industri, bukan sebagai manusia merdeka yang memiliki daya pikir kritis.

Kritik serupa juga pernah disampaikan oleh linguis dan filsuf asal Amerika Serikat, Noam Chomsky. Ia menilai bahwa pendidikan sejatinya bertugas menumbuhkan kesadaran kritis dan nilai-nilai kemanusiaan, bukan sekadar mencetak individu yang berpikir mekanis.

Menurutnya, ketika peserta didik hanya dibiasakan mengejar prestasi di atas kertas, ada risiko hilangnya kepekaan sosial serta keberanian untuk mempertanyakan ketimpangan yang terjadi di lingkungan sekitar. Hal ini dinilai berbahaya bagi perkembangan masyarakat yang sehat dan demokratis.

Para pemerhati pendidikan pun mendorong adanya perubahan paradigma dalam sistem pembelajaran. Pendidikan diharapkan kembali pada tujuan utamanya, yakni membentuk manusia yang mampu berpikir mandiri, bernalar jernih, serta memiliki empati tinggi terhadap sesama.

Jika tidak segera dibenahi, sistem pendidikan dikhawatirkan hanya akan melahirkan generasi yang unggul secara angka, namun miskin makna dan kesadaran sosial.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *