Salamwaras. com Pekalongan-JAWA TENGAH – Derap langkah para peternak ayam yang turun ke jalan bukan sekadar aksi biasa. Ini adalah potret luka yang lama terpendam—ketika kandang tak lagi menjanjikan kehidupan, dan suara ayam kalah nyaring oleh kerasnya tekanan ekonomi.
Kenaikan harga pakan, terutama jagung sebagai bahan utama, menjadi beban berat yang terus menghimpit. Di sisi lain, harga jual ayam di tingkat peternak justru tak sebanding. Dalam banyak kasus, harga ayam hidup bahkan berada di bawah biaya produksi, membuat peternak merugi setiap hari .
Fenomena ini bukan sekadar gejolak sesaat. Ini adalah krisis struktural dalam sektor peternakan rakyat—di mana biaya produksi melonjak, sementara harga jual dikendalikan pasar yang tak berpihak. Ketimpangan ini menciptakan lingkaran tekanan yang memaksa peternak memilih antara bertahan atau gulung tikar.
Pemerintah memang telah berupaya menstabilkan kondisi, seperti menyalurkan jagung bersubsidi untuk menekan biaya pakan , serta mendorong penyerapan hasil ternak oleh berbagai program pangan �. Namun di lapangan, banyak peternak merasa kebijakan itu belum cukup cepat menjangkau realitas yang mereka hadapi.
Di balik angka-angka produksi dan kebijakan, ada kisah manusia yang jarang terdengar. Peternak kecil yang bangun sebelum fajar, memberi makan ribuan ayam dengan harapan sederhana: cukup untuk menyekolahkan anak, cukup untuk bertahan hidup. Kini, harapan itu mulai goyah.
Aksi turun ke jalan menjadi simbol keputusasaan sekaligus perlawanan. Seperti yang terjadi di berbagai daerah, peternak bahkan membagikan ayam atau telur secara gratis—bukan karena berlebih, tapi karena harga jual tak lagi bernilai. Sebuah ironi pahit: lebih baik dibagikan daripada dijual rugi.
Fenomena ini bisa disebut sebagai “paradoks pangan”—ketika produksi melimpah, namun pelaku produksinya justru menderita. Bahkan di Jawa Tengah, produksi telur sempat mengalami surplus, sementara harga di tingkat peternak jatuh jauh dari harga acuan
Hari ini, jalanan menjadi saksi bahwa krisis ini nyata. Bukan sekadar soal ayam atau pakan, tetapi tentang keadilan ekonomi bagi mereka yang berada di hulu rantai pangan.
Jika tak segera ditangani secara menyeluruh—dari harga pakan, distribusi, hingga perlindungan harga di tingkat peternak—maka yang runtuh bukan hanya usaha kecil, tetapi juga ketahanan pangan itu sendiri.
Dan ketika kandang-kandang mulai kosong, kita mungkin baru sadar: suara yang dulu diabaikan, ternyata adalah peringatan.
( Jambul)





