Kadus Rahmad Murka: Jangan Jadikan Kampung Kami Korban Hoaks dan Propaganda Media

Framing Sesat Dibongkar! Warga Jalan Kebun Sayur Lawan Propaganda Media Penggiring Opini

Stop Jual Sensasi! Kampung Warga Jangan Dijadikan Panggung Fitnah Murahan

“Las Vegas Narkoba” Dinilai Fitnah Brutal, Masyarakat Jalan Kebun Sayur Melawan Balik

Berita Bombastis Tanpa Fakta Disebut Hancurkan Nama Baik Warga Dusun II

Kadus Rahmad Murka: Jangan Jadikan Kampung Kami Korban Hoaks dan Propaganda Media

Opini Liar Berkedok Jurnalistik! Warga Tanjung Morawa A Tolak Penghakiman Sepihak

Nama Kampung Dirusak Demi Trafik? Warga Jalan Kebun Sayur Akhirnya Buka Suara

Media Jangan Jadi Mesin Fitnah! Framing Sepihak Dinilai Sudah Kelewat Batas

Stop Penggiringan Opini! Jalan Kebun Sayur Bukan Sarang Kriminal Seperti Dituduhkan

Headline Provokatif Dinilai Bunuh Karakter Warga Jalan Kebun Sayur

Rahmad Tegas: Jangan Lempar Tuduhan Liar Lalu Hakimi Satu Kampung Sekaligus

Warga Geram! Kampung Mereka Disebut “Markas Narkoba” Tanpa Fakta Hukum Jelas

Narasi Hoaks Makin Brutal, Warga Tanjung Morawa A Lawan Framing Menyesatkan

Jangan Asal Sebut Nama! Penghakiman Media Dinilai Lebih Kejam dari Putusan Hukum

Masyarakat Jalan Kebun Sayur Melawan: Kami Bukan Target Propaganda Murahan

Framing Tanpa Bukti Dinilai Lebih Berbahaya dari Kejahatan Itu Sendiri

Warga Dusun II Tolak Dicap Kriminal: “Kami Punya Harga Diri dan Nama Baik!”

Opini Digoreng, Fakta Diabaikan! Warga Tuduh Ada Media Bermain Sensasi

Kadus Rahmad Semprot Pemberitaan Miring: Jangan Rusak Kampung Kami dengan Fitnah

Media Didesak Kembali ke Etika Jurnalistik: Bukan Jadi Pabrik Narasi Sesat

Tanjung Morawa A Melawan Hoaks! Warga Tolak Kampungnya Dijadikan Objek Sensasi

Fortuner Putih Dijadikan Isu Liar, Warga Sebut Media Terlalu Banyak Asumsi

Berita Miring Dinilai Sudah Masuk Ranah Pembunuhan Karakter Massal

Warga Jalan Kebun Sayur Naik Pitam: Jangan Jadikan Kami Tumbal Opini Publik!

Stop Fitnah Berkedok Kritik Sosial! Masyarakat Dusun II Lawan Balik Narasi Sesat

Demi Viewer dan Trafik, Nama Kampung Disebut-sebut Tanpa Bukti yang Utuh

“Kami Bukan Sarang Narkoba!” Warga Dusun II Hantam Balik Tuduhan Sepihak

Penggiringan Opini Dinilai Lebih Sadis dari Fakta, Warga Tuntut Keadilan Informasi

Terlalu Mudah Menghakimi! Warga Tanjung Morawa A Desak Media Hentikan Framing Brutal

Hoaks, Sensasi, dan Propaganda: Jalan Kebun Sayur Menolak Dicap Kampung Kriminal

Deli Serdang — Warga dan perangkat Desa Tanjung Morawa A akhirnya angkat bicara dan melawan keras gelombang pemberitaan yang dinilai telah berubah menjadi propaganda opini liar terkait isu dugaan peredaran narkoba di Dusun II Jalan Kebun Sayur. Mereka menilai sebagian media online dan akun media sosial tidak lagi menjalankan fungsi jurnalistik secara sehat, melainkan menggiring persepsi publik dengan narasi bombastis, provokatif, dan penuh asumsi tanpa dasar fakta hukum yang utuh.

Perangkat Desa Tanjung Morawa A, Rahmad selaku Kepala Dusun (Kadus) II, menegaskan bahwa masyarakat sudah geram melihat kampung mereka terus dijadikan sasaran framing negatif seolah Jalan Kebun Sayur adalah “sarang kriminal” yang hidup tanpa hukum dan dipenuhi pelaku narkoba.

“Kami menolak keras framing sesat yang terus dimainkan. Jangan jadikan kampung kami bahan jualan opini murahan demi trafik dan sensasi. Ini sudah keterlaluan dan mengarah pada pembunuhan karakter terhadap masyarakat,” tegas Rahmad kepada awak media, Minggu (11/5/2026).

Menurutnya, kritik sosial dan pengawasan publik memang penting, namun bukan dengan cara memproduksi headline provokatif lalu menggiring masyarakat untuk percaya bahwa seluruh warga Dusun II terlibat atau melindungi aktivitas ilegal.

“Jangan asal lempar tudingan lalu satu kampung dihukum lewat opini media. Mayoritas warga di sini hidup normal, bekerja keras, menjaga lingkungan, dan tidak pernah terlibat kejahatan. Tapi karena framing liar, masyarakat kami diperlakukan seolah semuanya kriminal,” ujarnya tajam.

Rahmad juga membantah keras narasi yang menyeret kendaraan Fortuner putih dan dikaitkan dengan aparat kepolisian maupun dugaan aktivitas tertentu sebagaimana ramai digoreng di media sosial. Ia menyebut isu tersebut sebagai rumor liar yang dibangun tanpa fakta jelas dan tanpa verifikasi.

“Fortuner putih yang disebut-sebut itu tidak pernah masuk ke lokasi sebagaimana diberitakan. Dan kendaraan itu juga bukan milik polisi seperti narasi liar yang terus dimainkan. Jangan menggiring asumsi seolah itu fakta hukum,” katanya dengan nada tegas.

Ia menilai sebagian media telah keluar dari koridor jurnalistik karena lebih sibuk membangun sensasi dibanding menyajikan fakta berimbang. Bahkan istilah “Las Vegas Narkoba” yang disematkan terhadap Jalan Kebun Sayur disebut sebagai bahasa provokatif, tendensius, dan tidak manusiawi terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

“Itu bukan kritik sosial lagi, tapi sudah propaganda stigma. Kampung kami dipukul rata seolah semua warga pelaku narkoba. Bahasa seperti itu jelas memperkeruh keadaan dan menghancurkan nama baik masyarakat yang tidak tahu apa-apa,” lanjut Rahmad.

Rahmad juga menyindir keras media yang dinilai terlalu gampang mempublikasikan tuduhan tanpa konfirmasi menyeluruh kepada perangkat desa maupun masyarakat setempat.

“Kalau mau jadi media, jalankan jurnalistik yang benar. Jangan cuma mengutip narasi sepihak lalu dibungkus headline bombastis untuk menggiring emosi publik. Media seharusnya menyampaikan fakta, bukan menjadi mesin pembentuk fitnah dan penghakiman opini,” katanya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku geram melihat kampung mereka terus disudutkan melalui pemberitaan yang dinilai sarat penggiringan opini dan stigma negatif.

“Miris kami lihat. Kampung kami seolah dicap tempat sampah kriminalitas. Padahal mayoritas masyarakat di sini religius, hidup baik, dan menjaga lingkungan. Tapi karena berita-berita yang terus digoreng tanpa kontrol, nama kampung kami rusak di mata publik,” ujarnya.

Ia menilai polemik tersebut semakin liar setelah penangkapan seorang pria bernama Arman Syaputra alias Bobo beberapa waktu lalu, yang kemudian berkembang menjadi berbagai tudingan liar dan penyeretan nama-nama lain tanpa dasar hukum yang jelas.

“Setelah penangkapan Arman alias Bobo, narasi berkembang tidak terkendali. Banyak nama dibawa-bawa dan dihakimi di media seolah sudah pasti bersalah. Padahal proses hukum saja belum berjalan sampai ada putusan tetap,” katanya.

Tokoh masyarakat itu juga menyoroti pemberitaan yang secara terang-terangan menyeret nama MS alias Panjang dan mengaitkannya dengan dugaan peredaran narkoba. Ia menilai tudingan tersebut sangat fatal dan berpotensi menjadi fitnah publik yang menghancurkan nama baik seseorang.

“MS alias Panjang setahu kami dikenal baik, religius, dan sering membantu masyarakat. Tapi namanya digiring seolah sudah terbukti bersalah. Ini sangat berbahaya dan tidak adil,” ungkapnya.

Menurutnya, media harus sadar bahwa menyebut nama seseorang tanpa dasar hukum yang jelas bisa menghancurkan reputasi, keluarga, kehidupan sosial, bahkan keselamatan seseorang hanya karena opini yang belum tentu benar.

“Kalau memang ada pelanggaran hukum, biarkan aparat bekerja berdasarkan fakta dan alat bukti. Jangan media lebih dulu bertindak seperti hakim jalanan yang menjatuhkan vonis lewat narasi,” tambahnya.

Masyarakat dan perangkat desa menegaskan bahwa mereka tidak anti terhadap penegakan hukum maupun kritik sosial. Namun mereka menolak keras praktik pemberitaan yang dinilai berubah menjadi alat propaganda opini, penggiringan persepsi publik, dan pembentukan stigma massal terhadap seluruh masyarakat Jalan Kebun Sayur.

“Kami mendukung penuh penegakan hukum bila memang ada pelanggaran. Tapi kami melawan keras berita hoaks, framing sepihak, fitnah publik, dan narasi provokatif yang menghancurkan nama baik kampung kami demi sensasi. Masyarakat juga punya hak dilindungi dari penghakiman opini liar,” tutup Rahmad.

Red/Tim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *