Oleh: Adi Suparto
Salamwaras.com,MADIUN, 3 Juni 2026 – Nama Nanik Sudaryati Deyang kini menjadi perhatian publik nasional setelah dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto. Amanah besar yang diembannya tidak ringan. Di pundaknya kini bertumpu salah satu program strategis pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis, yang menyangkut kesehatan dan masa depan jutaan anak Indonesia.
Namun, di balik jabatan strategis tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang perempuan yang ditempa oleh disiplin keluarga, pendidikan, dunia jurnalistik, serta berbagai dinamika kehidupan yang membentuk karakter kepemimpinannya.
Bagi sebagian orang, Nanik dikenal sebagai pebisnis media, penulis, dan tokoh publik. Namun bagi mereka yang mengenalnya sejak lama, Nanik adalah sosok perempuan tangguh yang lahir dan tumbuh di Madiun, kota yang dikenal dengan julukan Kota Pendekar. Nilai keberanian, keteguhan, kejujuran, dan kepedulian sosial yang melekat pada dirinya telah terbentuk sejak masa kecil.
Akar Madiun yang Membentuk Karakter
Nanik lahir di Madiun pada 3 Januari 1968 dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pegawai, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga yang dikenal disiplin dalam mendidik anak-anaknya.
Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.
Menimba Ilmu di SD Muhammadiyah Madiun
Pendidikan dasar ditempuh di SD Muhammadiyah Kelurahan Gede, Madiun, pada periode 1974–1980. Sejak usia dini, Nanik dikenal sebagai anak yang aktif, berprestasi, dan memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat.
Menurut sejumlah teman masa kecilnya, ia sering tampil membela teman-teman yang dianggap diperlakukan tidak adil. Sikap tersebut membuatnya dikenal sebagai pribadi yang memiliki rasa keadilan tinggi dan tidak mudah gentar menghadapi tekanan.
Selain aktif dalam kegiatan sekolah, Nanik juga dikenal sebagai murid yang rajin dan konsisten meraih prestasi akademik.
Tumbuh Menjadi Pemimpin di SMP Negeri 2 Madiun
Perjalanan pendidikan berlanjut di SMP Negeri 2 Madiun pada 1980–1983. Di sekolah ini, kemampuan kepemimpinan dan kepekaan sosialnya semakin berkembang.
Ia aktif dalam kegiatan Pramuka dan organisasi siswa. Guru maupun teman-temannya mengenang Nanik sebagai sosok yang tegas, berpendirian kuat, namun memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar.
Pada masa inilah ketertarikannya terhadap dunia tulis-menulis mulai tumbuh. Ia sering mengisi majalah dinding sekolah dengan tulisan yang mengangkat persoalan sosial dan kehidupan masyarakat.
Mengasah Keteguhan di SMA Negeri 1 Madiun
Tahun 1983 hingga 1986 menjadi fase penting dalam pembentukan karakter Nanik saat menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Madiun.
Memilih jurusan IPA, ia terbiasa berpikir sistematis, logis, dan berbasis data. Kemampuan tersebut kelak menjadi modal penting dalam perjalanan profesionalnya.
Selain aktif dalam berbagai organisasi sekolah, Nanik juga dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Ia kerap dipercaya menjadi pengurus organisasi, penulis pidato, maupun pembicara dalam berbagai kegiatan sekolah.
Mereka yang mengenalnya pada masa itu menggambarkan Nanik sebagai pribadi yang teguh memegang prinsip, namun tetap memiliki empati yang tinggi terhadap sesama.
Latar Belakang Sains yang Menguatkan Perspektif Gizi
Setelah lulus SMA, Nanik melanjutkan pendidikan ke Jurusan Biologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, dan menyelesaikan studi pada tahun 1991.
Latar belakang akademiknya di bidang biologi membentuk pola pikir yang berbasis ilmu pengetahuan, data, dan fakta. Pemahaman mengenai kesehatan, nutrisi, dan perkembangan manusia menjadi bekal yang kini relevan dengan tugasnya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.
Selama kuliah, minatnya terhadap isu sosial semakin berkembang. Ia aktif dalam kegiatan pers mahasiswa dan banyak menulis mengenai kemiskinan, lingkungan hidup, serta ketimpangan pembangunan.
Dari pengalaman tersebut, ia semakin meyakini bahwa tulisan dapat menjadi sarana perjuangan untuk menyuarakan kepentingan masyarakat.
Meniti Karier di Dunia Jurnalistik
Alih-alih memilih jalur akademik atau penelitian, Nanik memutuskan terjun ke dunia jurnalistik.
Karier profesionalnya dimulai di Tabloid Bangkit yang berada di bawah naungan Kompas Gramedia. Di lingkungan kerja tersebut, ia mendapatkan pendidikan jurnalistik yang menekankan akurasi, independensi, dan tanggung jawab publik.
Perjalanan berikutnya membawanya mendirikan Kelompok Media Peluang yang mengelola sejumlah media, termasuk Majalah Femme dan Tabloid The Politic.
Melalui media yang dipimpinnya, Nanik dikenal sebagai penulis yang berani mengangkat isu-isu sosial, ekonomi, dan politik dengan gaya bahasa yang lugas dan dekat dengan masyarakat.
Sejumlah tulisannya mendapat perhatian luas karena menyoroti persoalan yang dianggap penting bagi kepentingan publik, mulai dari kepemimpinan nasional, nasib petani, hingga ketahanan pangan.
Ujian dan Keteguhan
Perjalanan hidup Nanik tidak selalu berjalan mulus. Salah satu periode yang paling berat terjadi pada tahun 2018 ketika namanya ikut terseret dalam polemik kasus Ratna Sarumpaet.
Peristiwa tersebut membawa berbagai konsekuensi, baik secara pribadi maupun profesional. Tekanan publik, persoalan hukum, dan dampak terhadap keluarga menjadi ujian yang tidak ringan.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi fase penting dalam perjalanan hidupnya. Ia memilih menghadapi situasi tersebut secara terbuka dan menjadikannya sebagai pelajaran berharga mengenai pentingnya verifikasi fakta dan tanggung jawab publik.
Mengemban Amanah di Badan Gizi Nasional
Pada 2 Juni 2026, Nanik Sudaryati Deyang resmi dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.
Penunjukan tersebut menandai babak baru dalam perjalanan kariernya. Dari seorang wartawan yang banyak menulis tentang kemiskinan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat, kini ia berada di posisi yang memungkinkan dirinya terlibat langsung dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan nasional.
Pengalaman sebagai jurnalis membuatnya terbiasa melihat persoalan dari perspektif masyarakat. Sementara latar belakang akademik di bidang biologi memberinya pemahaman ilmiah mengenai pentingnya pemenuhan gizi bagi generasi muda.
Perpaduan kedua pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam mengawal program-program strategis Badan Gizi Nasional.
Dari Madiun untuk Indonesia
Kisah hidup Nanik Sudaryati Deyang menunjukkan bagaimana pendidikan, pengalaman, dan keteguhan dapat mengantarkan seseorang menempuh perjalanan panjang menuju pengabdian yang lebih luas.
Dari seorang anak yang tumbuh di Kota Pendekar Madiun, menjadi wartawan, pengusaha media, hingga dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional, perjalanan hidupnya mencerminkan semangat untuk terus belajar, berjuang, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Kini, di tengah tantangan besar pembangunan sumber daya manusia Indonesia, Nanik mengemban tanggung jawab baru: memastikan generasi muda Indonesia mendapatkan akses terhadap gizi yang lebih baik demi masa depan bangsa.
Editor : DM MPGI






