Salam waras.com SEMARANG – Sidang dugaan korupsi yang menyeret Fadia Arafiq di Pengadilan Tipikor Semarang berubah panas. Bukan sekadar bantahan biasa, Fadia tampil emosional, bahkan bersumpah tidak pernah menerima gratifikasi—satu rupiah pun.
Namun, di balik pernyataan keras itu, publik justru dihadapkan pada ironi: bantahan disampaikan, tetapi kesaksian para pejabat di lingkungan Pemkab Pekalongan justru mengarah sebaliknya.
“Satu rupiah pun saya tidak pernah terima,” ucap Fadia lantang di hadapan majelis hakim.
Pernyataan tersebut seolah ingin mematahkan seluruh konstruksi perkara. Tapi fakta di persidangan tidak sesederhana klaim. Sejumlah saksi sebelumnya mengungkap adanya aliran dana yang disebut berkaitan dengan jabatan, mulai dari uang ulang tahun, THR, hingga dana akhir tahun.
Alih-alih meredam, pembelaan Fadia soal “tradisi” pemberian amplop dari bawahan justru membuka pintu pertanyaan baru. Sejak kapan praktik seperti itu dianggap wajar dalam birokrasi? Dan jika benar terjadi, apakah itu tradisi—atau pola yang selama ini dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan?
Pernyataan ini menjadi titik krusial. Dalam hukum tindak pidana korupsi, “kebiasaan” tidak serta-merta menghapus unsur pidana. Jika pemberian berkaitan dengan jabatan dan kewenangan, maka itu tetap berpotensi masuk kategori gratifikasi ilegal.
Lebih jauh, Fadia juga membantah pernah mengatur proyek di OPD. Namun, bantahan tersebut kembali berbenturan dengan kesaksian yang menyebut adanya keterlibatan dalam alur kebijakan dan pengendalian kegiatan.
Sidang ini bukan lagi sekadar soal benar atau salah, tetapi tentang menguji batas antara “tradisi birokrasi” dan “penyalahgunaan kekuasaan”. Publik kini menunggu, apakah pengadilan mampu menembus narasi pembelaan yang dibangun—atau justru menguatkan dugaan praktik lama yang selama ini tersembunyi di balik sistem.
Persidangan masih akan berlanjut. Tapi satu hal mulai terlihat jelas: semakin keras bantahan disuarakan, semakin tajam pula sorotan publik mengarah pada apa yang sebenarnya terjadi di balik kekuasaan. sumber : dari berbagai sumber





